Saturday, April 11Top Banten - Rujukan Paling Top Warga Banten
Shadow

“Rahasia Rumah Tangga Tahan Badai! Sekolah Pernikahan Batch 3 Ungkap Kunci Bahagia Sejati”

Serang (07/09/2025) Pernikahan bukan hanya tentang janji di pelaminan, tapi perjalanan panjang yang penuh lika-liku. Inilah yang diangkat dalam Sekolah Pernikahan Batch 3, digelar Ahad (7/9/2025) di Masjid Jami Assalam, KPN Ciceri, Serang.

Kegiatan ini sukses menghadirkan wawasan segar tentang cara menjaga biduk rumah tangga agar tetap kokoh di tengah gempuran ujian zaman.

Acara yang diinisiasi oleh Sekolah Pernikahan Fatimah-Ali bersama Aisyah Institute Yayasan Sahabat Quran Banten ini menyasarpasangan suami istri (pasutri) dan generasi usia 20 tahun ke atas.

Puluhan peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara sejak pagi hingga jelang siang.

Abu Hanifah dan Umi Lismawati, pendiri sekaligus pembina Sekolah Pernikahan Fatimah-Ali, tampil sebagai narasumber utama dengan materi yang bikin para peserta mengangguk-angguk dan sesekali tersenyum malu.

Dalam pemaparannya, Umi Lismawati membedah fasefase pernikahan yang sering jadi misteri bagi banyak pasangan.

Dengan lugas ia mengurai perjalanan cinta ala ilmu psikologi dan tafsir Al-Quran, Umi Lismawati, yang juga konselor pernikahan bersertifikat, memaparkan lima fase penting pernikahan:

  • Romantic Love (Mawaddah) – masa manis bak gula, biasanya bertahan 1-5 tahun.
  • Disappointment (Distress) – fase kritis penuh konflik, komunikasi buntu, mulai ada rahasia.
  • Knowledge & Awareness – tahap saling memahami dan menurunkan ego.
  • Transformation – cinta matang, komunikasi dewasa, belajar jadi sahabat.
  • Real Love (Rahmah) – cinta sejati, penuh penerimaan dan kedewasaan.

“Cinta sejati itu bukan di awal pernikahan, tapi setelah melewati badai bersama,” tutur Umi.

Ia menegaskan bahwa kunci penyelamat pernikahan ada pada tiga hal: mendekat kepada Allah, menguatkan hubungan dengan pasangan, dan mengelola konflik dengan bijak.

Sesi kedua tak kalah menarik. Abu Hanifah mengingatkan pentingnya keridhoan dalam rumah tangga.

“Jadilah laki-laki yang mudah memberi ridho pada istri. Dan jadilah istri yang tidak lupa bahwa posisi tertinggi adalah memperoleh keridhoan suami,” tegasnya. Ia juga menekankan kunci bahagia rumah tangga adalah syukur.

Syukur, katanya, bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tapi diwujudkan dengan sikap seperti berikut ini :

  • Suami bersyukur kepada istrinya – menghargai jerih payahnya mengurus rumah, anak, bahkan jika ia ikut mencari nafkah.
  • Istri bersyukur kepada suaminya – menerima dengan ikhlas apa yang diberikan suami, tanpa menuntut berlebihan.
  • Anak bersyukur kepada orang tua – hormat, berbakti, dan tidak melawan.

“Kalau kita mengaku bersyukur kepada Allah tapi tidak menghargai pasangan, itu omong kosong,” ujarnya, disambut senyum simpul peserta tanda setuju.

Acara dilanjut dengan muhasabah, refleksi diri sebagai pelepasan emosi negatif, Kemudian sesi tanya jawab serta doa bersama.

Terlihat para peserta pulang dengan wajah sumringah, membawa pesan bahwa pernikahan bukan sekadar cinta manis, tapi seni bersyukur dan bertahan dalam setiap fase kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *