
Oleh : Muhamad Afif (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
“Katakanlah: “Maukah kalian Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka pada Hari Kiamat nanti.” (QS. 18: 103-105)
Delusi adalah gangguan persepsi atau penilaian jiwa atas keadaan dirinya yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi itu diyakini sebagai kenyataan atau kebenaran. Sedangkan ilusi adalah kekeliruan indera dalam mengenali objek nyata.
Surat 18 ayat 103-105 di awal tulisan menggambarkan orang yang mengalami delusi spritual. Menganggap diri orang yang baik padahal dirinya orang yang buruk. Menganggap diri melakukan amal kebaikan padahal yang dilakukannya amal keburukkan.
Menganggap diri orang yang beriman padahal yang dilakukan kekafiran. Menganggap semua perbuatannya akan dibalas dengan pahala, padahal semua itu tidak bernilai di akhirat nanti. Semua amal perbuatannya hangus tidak bernilai.
Untuk menggambarkan keadaan delusi spritual secara visual dan nyata, Alquran di dalam surat 24: 29 memberikan analogi dengan ilusi indera, yaitu seperti orang yang mengalami kehausan kemudian melihat fatamorgana di padang pasir yang datar yang disangka air tetapi saat didatangi tidak ada air. Alquran menjelaskan:
“Dan orang-orang kafir itu amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. 24: 39).
Kalau memperhatikan keadaan yang ada di tengah-tengah masyarakat akan dijumpai tidak sedikit orang yang mengalami delusi spritual. Menganggap dirinya sebagai orang yang jujur, padahal hidupnya penuh kebohongan dan kepalsuan.
Menganggap dirinya sebagai orang yang mulia dan terhormat, padahal gemar melakukan perbuatan hina dan tercela. Menganggap dirinya cinta agama dan negara, padahal selalu merusak serta mengkhianati agama dan negara.
Menganggap dirinya orang yang arif bijaksana, padahal seruannya sama dengan orang yang tidak pernah duduk di bangku sekolah. Menganggap dirinya orang yang berkuasa atas banyak orang, padahal dirinya sendiri tidak mampu dikuasai.
Menganggap sebagai orang yang yang ditokohkan dan disepuhkan oleh masyarakat, padahal masyarakat secara bisik-bisik merendahkan dan menghinakan.
Menganggap dirinya sebagai orang yang alim dan sholeh, padahal perbuatannya lalim dan zalim. Menganggap dirinya orang yang taat dalam beragama, padahal senang bermaksiat dengan berkedok menjalankan agama. Menganggap dirinya sebagai orang yang bertakwa, padahal takutnya bukan kepada Allah melainkan kepada orang yang zalim.
Menganggap dirinya sebagai orang yang ikhlas beribadah, padahal ibadahnya hanya ingin mendapatkan pujian dan balasan dari manusia. Merasa Ibadahnya paling rajin, padahal ibadahnya malasan-malasan kecuali ibadah yang dijalankannya itu memberinya keuntungan dunia.
Menganggap dirinya orang yang paling dekat dengan Allah, padahal hatinya jauh dari Allah. Sikap seperti ini merupakan sikap merasa paling suci. Sebuah delusi spritual. Padahal sikap merasa diri suci ini merupakan sikap yang dilarang Allah:
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. 53: 32)
Inilah delusi spritual yang banyak dijumpai di tengah-tengah masyarakat, terutama orang yang dianugerahi Allah dengan kekuasaan, kekayaan, dan pengetahuan. Dianggapnya apa yang dimilikinya itu sebagai bentuk ridho Allah kepada mereka sehingga pantas merasa suci.
Padahal Fir’aun saja dengan kekuasaan dan kekayaan yang tiada tandingannya dimurkai Allah saat merasa suci, apalagi yang keadaannya tidak berharta, tidak berkuasa dan tidak berilmu. Rasulullah mengingatkan umatnya agar jangan merasa suci:
“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim).
Sungguh tidak tahu diri jika yang kualitas iman, kualitas ibadah dan kualitas ketaatannya masih rendah sehingga masih suka berbuat maksiat tetapi merasa suci, sementara Rasulullah dan para sahabatnya yang sudah dijamin masuk surga tidak pernah merasa suci. Jangan karena dianugerahi dengan kenikmatan dunia kemudian menganggap diri suci padahal masih suka berbuat dosa dan maksiat.
Padahal jika seperti itu keadaannya itu adalah bentuk istidraj, yakni nikmat yang membuat orang semakin tenggelam dalam dosa dan maksiatnya. Rasulullah bersabda:
“Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad)
Yang perlu disadari bahwa semakin kokoh iman dan ketaatan seseorang dalam beragama, maka akan semakin berat juga ujian yang menimpanya. Ujian itu menjadikan hati orang yang beriman semakin sadar diri dengan keadaannya.
Kesadaran diri itu menjadikannya semakin banyak istighfar dan taubat kepada Allah, dengan cara semakin banyak menjalankan ketaatan yang menjadikan jiwanya semakin bersih dari akhlak tercela seperti merasa suci. Jadi, semakin baik imannya akan semakin berat ujiannya. Dimana ujian ini sebagai penyuci jiwa dari dosa. Rasulullah bersabda:
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad)
Bulan Ramadhan telah dijalani beberapa yang lalu. Sudah seharusnya hati selalu dijaga dari delusi spritual. Kalau belum apa-apa sudah merasa baik imannya karena siap menjalankan ibadah puasa, padahal niatnya belum tentu tulus dan lurus hanya sekedar kegiatan rutin tahunan dan ikut-ikutan. Kemudian, belum juga menjalankan ibadah puasa sudah memastikan akan mencapai tujuan puasa, menjadi orang yang bertakwa.
Jika belum apa-apa sudah begini sikapnya, bisa jadi di akhir bulan Ramadhan menjadi orang yang mengalami delusi spritual. Karena orang yang angkuh dan jumawa akan lalai dan abai saat menjalankan ibadah puasanya, tetapi merasa menjalankan ibadah puasa dengan baik. Kemudian, merasa mencapai tujuan berpuasa, menjadi orang yang bertakwa.
Padahal ketaatannya kepada Allah tidak ada perbaikan. Masih sama seperti sebelumnya, bahkan selama bulan Ramadhan lebih buruk. Nafsunya lepas kendali terutama di malam hari dan mendekati akhir bulan Ramadhan. Inilah Delusi spritual yang patut dihindari.
