
TOPBANTEN.COM – Mohammad Natsir dan Mosi Integral 3 April 1950 berhasil menyelamatkan kembali kemerdekaan Indonesia akibat digempur oleh agresi militer
Belanda.
Tidak hanya itu, Mohammad Natsir dan Mosi Integral 3 April 1950 juga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang sempat terbelah akibat pembagian kekuasaan oleh Belanda dengan Indonesia, kembali bersatu di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun, sebagaimana kita pahami Mohammad Natsir dan Mosi Integaral 3 April 1950 tidak lahir begitu saja, ada sejarah yang melatarbelakangi momentum sejarah tersebut.
Dikutip bantenraya.com dari buku Patah Tak Tumbuh Hilang Tak Berganti karya Hadi Nur Ramadhan menjelaskan bahwa sebelum lahirnya Mosi Integral Natsir, terjadi perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS).
Perdebatan yang terjadi di Parlemen Sementara RIS adalah kekecewaan masyarakat Indonesia terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Deen Hag, Belanda, pada 23 Agustus-2 November 1949.
BACA JUGA: Profil Subadri Ushuludin, Bakal Calon Wali Kota Serang di Pilkada 2024: Umur, Karir, dan Akun IG
Menurut Lukman Hakim dalam buku Biografi Mohammad Natsir, pada 27 Desember 1949, kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).
Kemudian, Lukman Hakim mengutip keterangan dari Mohammad Roem, salah satu yang hadir dalam upacara penyerahan kedaualatan tersebut, mengatakan setelah itu terbentuklah sebanyak 16 Negara Bagian yang bergabung dalam RIS.
- Republik Indonesia.
- Indonesia Timur.
- Negara Dayak Besar.
- Negara Borneo Tenggara.
- Negara Borneo Timur.
- Negara Borneo Barat.
- Negara Banjar.
- Negara Bengkulu.
- Negara Belitong.
- Negara Riau.
- Negara Sumatera Timur.
- Negara Madura.
- Negara Pasundan.
- Negara Sumatera Selatan.
- Negara Jawa Timur.
- Negara Jawa Tengah.
Setelah terbentuk negara-negara bagian tersebut, ternyata banyak terjadi aski demonstrasi dari berbagai daerah yang tidak setuju dengan dibentuknya pemerintahan semacam itu.
“Belum lagi kering tinta penyerahan kedaulatan dari Belanda ke RIS, pada 4 Januari 1950 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Malang mengeluarkan sebuah resolusi untuk melepaskan diri dari Negaea Jawa Timur, dan bergabung dengan RI,” ungkap Lukman Hakim.
BACA JUGA: Update Korban Kecelakaan Bus Subang, Pemkot Depok Siapkan 10 Liang Lahat
Selanjutnya, yang terjadi dengan daerah Malang diikuti oleh daerah-daerah lainnya, mulai dari Bekasi, Sukabumi hingga Jakarta Raya, Makassar dan Sumatera Timur.
“Demonstrasi anti-RIS di Sumatera Timur bahkan menyebabkan polisi harus turun tangan untuk menertibkan keadaan,” jelas Lukman Hakim.
Demonstari anti-RIS dari berbagai daerah, menarik perhatian Natsir. Natsir melihat bahwa ada ketidakpuasan dari masyarakat jika harus di bawah kepemerintahan RIS, mereka hanya menginginkan satu negara, Negara Indonesia.
Lukman Hakim menerangkan bahwa menurut Natsir resolusi dan demonstrasi itu baik, tetapi jika dibiarkan tanpa arah penyelesaian yang jelas, justru dapat membahayakan eksistensi negara baru ini.
Natsir yang pada saat itu menjadi Ketua Fraksi Masyumi, mengajukan kebijakan Mosi Integral di parlemen pada 3 April 1950.
BACA JUGA: Pilkada 2024: KPU Banten Nyatakan Tak Ada Pasangan Calon Perseorangan
Dalam Mosi itu Natsir menyampaikan untuk meleburkan daerah-daerah buatan Belanda dan menggabungkannya ke dalam Republik Indonesia.
Namun sebelum 3 April 1950, Natsir melakukan pertemuan dan tukar pikiran dengan para pemimpin fraksi lainnya.
Menurut Roem, sebagaimana yang diterangkan Lukman Hakim, Natsir membuat pembicaraan dengan pemimpin fraksi Partai Komunis Indonesi melalui Ir. Sakirman.
“Dan yang sangat kanan melalui Tuan B. Sahetapy Engel wakil dari BFO,” terang Lukman.
Lebih jauh, Natsir juga berbicara dengan fraksi Partai Kristen dan Partai Katolik, masing-masing melalui Tambunan dan Kasimo.
BACA JUGA: GASPOL! Subadri Ushuludin Mantap Ajak PKB Berkoalisi di Pilkada 2024: Sama-sama Lahir dari Rahim NU
“Dari situ saya mendapat kesimpulan, mereka negara-negata bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan Yogyakarta, asal jangan disuruh bubar sendiri,” tutur Natsir.
Namun, perjalan untuk mempersatukan kembali negara-negara bagian ke Republik Indonesia, ternyata tidak mudah.
Natsir mengakui bahwa melakukan lobby tersebut tidak mudah, terlebih dengan negara-negara bagian di luar Jawa.
Sementara itu, Natsir pun menyatakan bahwa Mosi Integral yang ia buat sengaja dikaburkan.
“Kita sedang menghadapi Belanda, jangan sampai nanti Belanda bikin kacau lagi,” jelas pria yang bergelar Datuk Sinaro Panjang.
Natsir juga menegaskan bahwa usaha Mosi Integral ini tidak boleh diketahui Belanda akan ke mana perginya.
Mohammat Hatta, Wakil Presiden pertama RI menyebut bahwa Mosi Integral Natsir sebagai proklamasi kedua setelah proklamasi pertama pada 17 Agustus 1945.
“Politik peleburan dan penggabungan itu membawa pengaruh besar tentang jalannya politik umum di dalam negeri dari pemerintahan di seluruh Indonesia,” tegas Natsir saat mengucapkan pidato Mosi Integral pada 3 April 1950 di parlemen. (Hamdi Ibrahim Redaktur Pelaksana Top Banten)***
